Tidur orang puasa adalah ibadah, benarkah ?
Oleh: Muhammad Lutfi Faisal Noviannor
(Staff Komisi A FSLDK Kalimantan Selatan).
(Staff Komisi A FSLDK Kalimantan Selatan).
Alhamdulillah, washalaatuwasalaamu ‘ala Rosulillahwa ‘ala aalihi washohbihi ajma’in
Ramadhan merupakan bulan yang penuh keberkahan berbagai macam amalan pun dilipat gandakan oleh Allah SWT, pada saat ramadhan juga orang berlomba lomba untuk meningkat amalan serta ketaqwaan-Nya disisi Allah SWT. Ramadhan adalah suatu kemuliaan yang hanya bisa dirasakan oleh umat baginda Rasulullah SAW, maka itu adalah suatu hal yang luar biasa yang tidak bisa dirasakan oleh umat lain selain umat Rasulullah.
Ramadhan merupakan bulan terbaik diantara bulan yang lain, mungkin kita saat ramadhan sering mendengar ungkapan bahwa tidur orang puasa itu adalah ibadah. Lantas apakah memang benar adanya demikian ? Apakah benar Rasulullah mengajarkan demikian pada umatnya ? Maka dari itu lewat tulisan saya ini mudahan semua hal itu tercerahkan. Aamiin Allahuma Aamiin.
Salah satu alasan kenapa orang tidur siang di bulan Ramadhan adalah hadits palsu yang berbunyi :
“Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”
“Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”
Salah satu hadits yang populer tiap Ramadhan tiba adalah hadits tentang keutamaan orang berpuasa yang bahkan tidurnya pun berstatus sebagai ibadah.
Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Syu’ab Al-Iman.
Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Syu’ab Al-Iman.
Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah). Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain.
Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif teteapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu). Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.
Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh yang satu ini. Beliau mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta. Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap. Maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.
Imam al-Ghazali menjelaskan :
“Sebagian dari tata krama puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, hingga seseorang merasakan lapar dan haus dan merasakan lemahnya kekuatan, dengan demikian hati akan menjadi jernih”
Semoga amal ibadah puasa kita diterima oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
(Sumber : Kitab Ihya’ Ulumid Din, Juz 1, Buku Ramadhan Antara Syariah Dan Tradisi, Ahmad Sarwat.)

0 Comments
Buat para pembaca Jangan lupa tinggalkan komentar yaa., Dan tidak lupa untuk bisa di share postingan ini agar bisa menambah ilmu pengetahuan. :-)