Moderasi Beragama Dan Toleransi Indonesia
Oleh: Muhammad Lutfi Faisal Noviannor (Ketua Umum LDK Amal UIN Antasari Banjarmasin Periode 2019-2020).
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semuanya, Shalom. Om Swastiastu. Namo Buddhaya. Salam Kebajikan.
Indonesia merupakan bangsa yang besar memiliki 652 bahasa, 1.340 suku dan ada 6 agama resmi di Indonesia, berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Banyak keragaman yang hadir dinegeri ini dengan jumlah suku, bahasa dan agama yang cukup banyak., pantas lah Indonesia menjadi negara yang plural. Oleh sebab itulah harusnya toleransi dijunjung tinggi dinegeri ini, bukan mengedepankan sikap intoleran kepada sesama umat beragama.
Pada kenyataannya masih banyak terdapat sikap mau menang sendiri ditengah masyarakat, terkadang memang manusia selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, di luar diri dan keluarganya. Bertikai bukanlah sifat dasar manusia. Potensi negatif muncul saat terpengaruh bisikan setan ketika ego dan nafsunya ingin berkuasa dan menonjolkan kelompoknya. Dalam hal ini, terkadang seseorang (kelompok) bersikap dan berperilaku ekstrem (fanatik), dalam pemahaman dan pengamalan agama dikenal dengan kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri.
Kedua kelompok ini tidak akan pernah mampu memosisikan diri sebagai khalifatun fil ardh, terlebih lagi menjadi rahmat bagi segenap alam. Sebaliknya, justru dapat menjadi perusak alam dan tatanan kehidupan sosial yang terbentuk lewat asas Pancasila. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (QS Al-Hujurat: 13). Seperti halnya Indonesia, negeri yang sangat beragam suku, ras, budaya, bahasa, agama, dan lain sebagainya. Meski beragam, Indonesia tetap satu.
Ekstremisme, radikalisme, ujaran kebencian (hatespeech), hingga retaknya hubungan antarumat beragama, merupakan problem yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Sehingga, adanya program pengarusutamaanmoderasi beragama ini dinilai penting dan menemukan momentumnya.Bentuk ektremisme terejawantahkan dalam dua bentuk yang berlebihan. Dua kutub yang saling berlawanan. Satu pada kutub kanan yang sangat kaku dalam beragama. Memahami ajaran agama dengan membuang jauh-jauh penggunaan akal.
Sementara di pihak yang lain justru sebaliknya, sangat longgar dan bebas dalam memahami sumber ajaran Islam. Kebebasan tersebut tampak pada penggunaan akal yang sangat berlebihan, sehingga menempatkan akal sebagai tolak ukur kebenaran sebuah ajaran.
Kelompok yang memberikan porsi berlebihan pada teks, namun menutup mata dari perkembangan realitas cenderung menghasilkan pemahaman yang tekstual. Sebaliknya, ada sebagian kelompok terlalu memberikan porsi lebih pada akal atau realitas dalam memahami sebuah permasalahan. Sehingga, dalam pengambilan sebuah keputusan, kelompok ini justru sangat menekankan pada realitas dan memberikan ruang yang terhadap akal.
أْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?
Padahal al-Qur’an sendiri sudah mengingatkan bahwa beragama bukan selalu menerima mentah tanpa memikirkan ulang serta menyaring kembali. Apakah itu sudah benar atau salah serta cocok kah diterapkan dalam bermasyarakat. Langkah yang tepat buat bangsa ini dalam beragama ialah mengedepankan sikap Tawassuth atau moderat yaitu sikap berada di tengah-tengah, tidak terjebak pada titik ekstrim, tidak condong kiri atau kanan, seimbang antara dalil aqli (akal) dan naqli (teks kitab suci). Harusnya sikap yang demikian inilah harus ditonjolkan dalam beragama dan bermasyarakat di Indonesia agar kedamaian hadir ditengah kita.
Sumber: https://bimasislam.kemenag.go.id/post/opini/pentingnya-moderasi-beragama https://www.google.com/amp/s/radarjember.jawapos.com/opini/20/11/2019/menteri- agama-baru-dan-misi-moderasi-beragama/amp/?espv=1 https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pmka35440?espv=1https://ww w.nu.or.id/post/read/78635/tawassuth-sebagai-jalan-harmoni

0 Comments
Buat para pembaca Jangan lupa tinggalkan komentar yaa., Dan tidak lupa untuk bisa di share postingan ini agar bisa menambah ilmu pengetahuan. :-)